hit tracker

Rabu, 15 April 2009

Al Maghfurlah H. Asyhari Marzuqi (1939-2004 M)

Alm. Al Maghfurlah H. Asyhari Marzuqi (1939-2004 M)

Biografi dan Profil

H. Asyhari Marzuqi, lahir di Giriloyo pada hari Selasa Kliwon tanggal 10 Nopember 1942 M atau tanggal 1 Dzulqo’dah 1361 H. Tanggal ini oleh H. Asyhari Marzuqi dikira-kira sendiri, karena ayahnya (Mbah Marzuqi) tidak menuliskan tanggal kelahirannya. Beliau hanya berkata pada H. Asyhari Marzuqi, “kamu lahir pada saat Jepang memasuki kota Yogyakarta”.
Tahun 1949, Asyhari Marzuqi masuk ke sekolah SR (Sekolah Rakyat) yang ada di Singosaren Wukirsari. Tapi karena letak sekolahan ini dekat dengan jalan besar yang sewaktu-waktu ada patroli Jepang, akhirnya sekolah itu diungsikan agak ke timur, tepatnya di Giriloyo, sampai kira-kira Asyhari kecil menginjak kelas 2. Kemudian kelas tiganya pindah lagi ke Singosaren, kelas 4 dan 5 dipindahkan lagi ke Puroloyo Imogiri dan kelas 6 nya pindah lagi ke Gestrikan (sekarang ada di timur Puskesmas Imogiri).
Lulus dari SR pada tahun 1955, Asyhari langsung ke Krapyak. Pada saat itu di Krapyak sudah ada pendidikan tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah. Pendidikan itu jika ditempuh secara normal akan memakan waktu selama 10 tahun, yaitu Ibtidaiyah 4 tahun, Tsanawiyah 3 tahun dan Aliyah 3 tahun. Tapi karena kersane Kiai Ali Maksum (Pengasuh Pondok Krapyak) pendidikan itu oleh H. Asyhari Marzuqi tidak ditempuh selama 10 tahun, karena terkadang dalam satu tahun beliau bisa naik dua kali. Ibtidaiyah di tempuhnya selama 2 tahun, Tasanawiyah 2 tahun dan Aliyah 2 tahun. Pada tahun 1959, ketika H. Asyhari Marzuqi masuk kelas satu Aliyah, oleh mBah Ali Maksum beliau disuruh ikut mengajar adik-adik kelasnya, sehingga pada saat itu beliau kalau pagi mengajar dan sorenya sekolah di Aliyah.
Setelah lulus dari Madrasah Aliyah (1961), beliau ditawari oleh Kiai Ali untuk melanjutkan studinya di Madinah. Bersama Gus Bik (Attabik Ali, putra Kiai Ali), Asyhari ikut mendaftar. Tapi pada saat itu yang berangkat Gus Bik. Tujuh bulan setelah keberadaannya di Madinah ternyata Gus Attabik tidak kerasan, kemudian kembali ke Krapyak. keinginan Kiai Ali supaya H. Asyhari Marzuqi menggantikan Gus Bik pun tidak terlaksana, karena ternyata jatah Gus Bik itu sudah digantikan oleh orang lain. Akhirnya, beliau kembali lagi ke Krapyak untuk mengajar.
Pada suatu hari H. Asyhari Marzuqi datang ke pak Kyai Musaddad yang tempat tinggalnya ada di daerah barat Malioboro. Asyhari mengutarakan keinginan untuk belajar di Timur Tengah. Tetapi oleh beliau, Asyhari disarankan untuk menempuh jalur yang semestinya, “kalau kamu ingin pergi ke Timur tengah, ya harus melewati jalur yang semestinya, masuklah IAIN.” begitu katanya. Atas saran Kyai Musaddad, menjelang GESTAPU (gerakan 30 September oleh PKI), H. Asyhari Marzuqi masuk ke IAIN Sunan Kalijaga Fakultas Syari’ah jurusan Tafsir Hadits.
Dunia pendidikan pada saat itu sedang kacau. Pada saat menjelang Gestapu itu hampir semua sekolahan libur. Sementara di IAIN sendiri sedang terjadi demo besar-besaran terhadap Rektor ( Prof. Soenaryo). Para demonstran itu meminta Rektor untuk mundur dari jabatannya dengan tuduhan bahwa Rektor telah melakukan NU-isasi di lingkungan IAIN. Sehingga dengan adanya dua permasalahan tersebut praktis tidak ada perkuliahan.
Tahun 1968 ketika perkuliahan sudah aktif (H. Asyhari Marzuqi kira-kira semester 7), oleh Prof. Hasbi Asshiddiqi Asyhari Marzuqi dijadikan asisten untuk mengajar adik-adik yang ada di semester awal untuk mata kuliah Bahasa Arab, Nahwu dan Shorf. Ketika mengajar itulah H. Asyhari Marzuqi mengenal Malik Madani (sekarang Dekan Fak. Syariah), Ali As’ad (sekarang politisi) masuk menjadi mahasiswa baru IAIN.
Untuk membedakan komponen yang ada di IAIN, pada waktu itu ada atribut yang harus dikenakan oleh seluruh civitas akademika. Dosen dan Asisten pakai atribut (Badge) warna putih dan mahasiswa pakai atribut (Badge) warna hijau. Sehingga terkadang Asyhari Marzuqi kalau pagi pakai atribut warna hijau kemudian siang pakai yang warna putih.
Pada tahun 1970 oleh Prof. Hasbi, Asyhari Marzuqi diminta untuk mengajukan permohonan menjadi Dosen di IAIN. Tapi, karena merasa belum cukup ilmu, beliau tidak menerima tawaran itu. Akan tetapi dari tawaran itulah, Asyhari terpacu untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya.
Setelah lulus dari IAIN (sekitar tahun 1971), keinginan untuk belajar ke Timur Tengah kembali menguat. Dengan biaya sendiri, akhirnya Asyhari Marzuqi ke Timur Tengah. Ia sangat berharap dapat meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (S2) pada disiplin ilmu yang telah ditekuni di Indonesia.
Ada kisah yang cukup heroik menjelang keberangkatannya ke Timur Tengah. Ceritanya, setelah mendapatkan paspor dan akan berangkat ke Iraq. Asyhari Marzuqi bermaksud sowan kepada bapak RH. Suwardiyono (Pendiri dan Ketua Yayasan Pendidikan Bina Putra) di Gunungkidul. Saat itu masih belum banyak kendaraan angkutan bis. Sehingga apabila ada bis yang Gunungkidul pasti penuh sesak oleh penumpang. Bis yang di dalamnya Asyhari Marzuqi menumpang pada saat itu sudah tidak muat lagi. Karena banyaknya penumpang, akhirnya belasan orang rela berada di atas atap bis. Asyhari pada waktu itu mendapat tempat duduk persis di samping kiri sopir dan disebelah kirinya ada seorang penumpang yang berdiri.
Bis yang penuh sesak oleh penumpang itu melaju menuju Wonosari seperti biasa. Sesampai di tikungan irung petruk (Desa Karangsari kec. Patuk), bis masih terkendali. Tetapi setelah tikungan tajam ke kiri, ternyata bis tidak bisa dikendalikan lagi oleh sopir. Bahaya pun datang mengancam karena 15 meter di depan bis itu adalah jurang yang sangat dalam. Sang sopir yang sudah berusaha membanting stir itu bergumam lirih sekali, “aduh, mati!” Hanya Asyhari yang mendengarnya. Benar!. Bis meluncur deras masuk jurang yang dalam itu. Bis menjungkir dan kepala bis lebih dulu menghantam tanah. Kemudian jatuh ke kanan.
Belasan orang meninggal dalam peristiwa kecelakaan tersebut. Belasan lainnya luka berat. Ada yang patah kaki, tangan, dan sebagainya. Kekuasaan Allah berbicara lain pada Asyhari. Hanya karena pertolongan Allah semata beliau dapat selamat. Tak ada sedikit pun luka menggores kulitnya. Padahal secara matematis, mestinya Asyhari, sopir dan orang yang berdiri itu yang terlebih dahulu terkena kaca dan menabrak bongkahan batu mengingat posisi bis yang jungkir ke bawah. Kehendak Allah, orang yang berdiri di samping Asyhari ngglosor persis di depannya, sehingga posisi Asyhari terhalang oleh orang itu dari pecahan kaca dan benturan batu. Asyhari selamat. Bahkan tidak mengalami pingsan, tidak ada luka. Ia kembali ke Yogya dengan selamat. Tetapi dua hari setelah kejadian itu, seluruh tubuhnya terasa sakit tak terkira.
Asyhari Marzuqi berangkat ke Timur Tengah dengan negara tujuan Iraq. Orang-orang seperti KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (mantan Presiden RI), KH. Irfan Zidni (sekarang PBNU) dan yang lainnya sudah berada di sana terlebih dahulu. Beliau berkeinginan untuk menemui mereka. Dengan membawa nama Bapak Mahfudz Ridwan dari Salatiga beliau menemui mereka.
Kedatangan Asyhari Marzuqi di negeri seribu satu malam disambut dengan hangat oleh para mahasiswa yang sudah terlebih dahulu datang. Bahkan Irfan Zidni ikut membantu mencarikannya beasiswa. Ternyata di Iraq tidak ada beasiswa S2 untuk program Syari’ah. “Pupus harapanku untuk melanjutkan S2,” kata hatinya. Namun di sana ada satu kelompok pengajian yang berdiri sejak muridnya Imam Abu Hanifah (sekitar tahun 400-an Hijriyah). Lembaga ini dipelihara dan dikelola dengan baik sekali.
Di lembaga yang bernama “Kulliyatul Imam al-A’zhom” itulah yang akhirnnya H. Asyhari Marzuqi kembali memperdalam pengetahuannya. Waktu itu beliau mendapatkan beasiswa sebesar 15 Dinar perbulan. 1 Dinar sama dengan US $ 3 waktu itu. Beasiswa tersebut cukup untuk bekal hidup dan sedikit membeli buku. Beasiswa itu diterimanya sampai tahun ke-5 berada di Iraq.
Teman-teman belajarnya di Kulliyatul Imam al-A’zhom adalah para khatib dan alim ulama dari negara-negara Timur Tengah. Yang paling banyak datang dari Kurdistan. Mereka ini walaupun sudah menjadi khatib namun belum mempunyai ijazah. Sehingga tidak heran ketika para dosen di tempat itu justru memanggil kawan-kawan Asyhari Marzuqi dengan panggilan “ustadz” karena memang umurnya lebih tua.
Orang-orang Kurdistan ini rata-rata mempunyai daya hafal yang luar biasa. Sehingga Asyhari Marzuqi tidak kaget apabila kitab-kitab seperti Alfiyah, Shohih Bukhori dan Muslim mereka hafal semua. Namun, Alhamdulillah H. Asyhari Marzuqi saat itu masih dapat rangking 3. Prestasi itu membuat H. Asyhari Marzuqi mendapatkan ucapan selamat (penghargaan) dari Menteri Penerangan RI.
Lima tahun setelah mendapatkan beasiswa, H. Asyhari Marzuqi bekerja di Kedutaan Besar RI di Iraq. Dubesnya saat itu adalah Malik Kuswadi orang Jakarta. Tugas H. Asyhari Marzuqi di Kedutaan besar itu pada awalnya adalah menterjemah surat kabar Arab ke dalam bahasa Indonesia. Sehari beliau terkadang bisa menyelesaikan 3 sampai 4 surat kabar.
Keinginan H. Asyhari Marzuqi untuk S2 masih tinggi. H. Asyhari Marzuqi berusaha mencari beasiswa ke Kairo tapi selalu gagal. Akhirnya H. Asyhari Marzuqi mengambil S2 untuk program kuliah jarak jauh (kalau di Indonesia semacam UT) yang ada di Kairo Mesir (Afrika) yaitu di “al-Dirasah al-Islamiyah” dengan biaya pada waktu itu sebesar US $115. Ketika akan mengikuti ujian masuk program itulah (tahun 1978) H. Asyhari Marzuqi mendapatkan telegram dari rumah yang isinya “disuruh pulang”. Beliau pulang dengan meninggalkan ujian.
H. Asyhari Marzuqi pulang ke Indonesia dengan selamat. Sesampai di rumah, oleh Mbah Marzuqi, beliau disuruh untuk memilih calon pendamping hidup. Calon yang disodorkan kepadanya adalah seorang gadis dari Watucongol Muntilan dan seorang putri mBah Kiai pengasuh pondok Somolangu Kebumen. Pilihannya jatuh pada putri mBah Kiai dari Kabumen. Kemudian beliau datang ke Pondok Somolangu di Kebumen. Sesampainya di sana, H. Asyhari Marzuqi disambut dengan luar biasa oleh mBah Kiai. Namun ketika H. Asyhari Marzuqi akan khitbah pada putrinya, beliau dihalang-halangi (tidak diperbolehkan) oleh kakak iparnya (menantu mBah Kiai) padahal sang putri yang mondok di Solo itu sudah ada di rumah karena disuruh pulang untuk acara tersebut. Ketidakbolehan itu karena sang kakak sudah punya calon untuk adiknya yaitu orang dari Jakarta yang kaya.
H. Asyhari Marzuqi pulang ke rumah dengan hati yang masygul. Oleh pak Nurhadi (Tlenggongan Imogiri) beliau disarankan ke Ngrukem Bantul. H. Nurhadi memberinya selembar foto Ibu Nyai Hj. Barokah. Melihat foto itu H. Asyhari Marzuqi langsung setuju. Setelah semuanya diatur, 4 hari berikutnya H. Asyhari Marzuqi menikah dengan Ibu Nyai Hj. Barokah putri dari mBah Kiai Nawawi Abdul Aziz Ngrukem Bantul. Dua hari setelah menikah, H. Asyhari Marzuqi mengantarkan ibu (Hj. Barokah) ke pondoknya di Kediri. Dan dua hari setelah mengantarkan itu, H. Asyhari Marzuqi kembali ke Iraq dan menjalankan aktivitas seperti biasanya.
Delapan bulan setelah menikah, pada tahun 1979, ibu Nyai Hj. Barokah menyusul ke Iraq. Saat itu keinginan H. Asyhari Marzuqi untuk S2 sudah mulai melemah karena selalu gagal mendapatkan beasiswa. Kekecewaan ini akhirnya H. Asyhari Marzuqi lampiaskan dengan membeli kitab-kitab. Pelampiasan ini kemudian menjadi suatu hobi tersendiri bagi H. Asyhari Marzuqi. Sehingga setiap saat ada uang dan kesempatan langsung ia membeli kitab.
Sampai H. Asyhari Marzuqi kembali ke Indonesia pada tahun 1985 ada sekitar 1015 judul kitab dan buku yang telah H. Asyhari Marzuqi beli. Untuk mengirimkan ke rumah di Giriloyo, H. Asyhari Marzuqi titipkan sebagian kitab-kitab itu kepada para diplomat pada waktu mereka kembali ke Indonesia. Karena mereka punya jatah barang bawaan yang banyak di pesawat. Sebagian yang lain buku-buku itu dikirim lewat jasa Pos. Tetapi tidak semua kitab-kitab yang dikirimkan, baik yang dititipkan maupun lewat pos itu sampai ke tempat tujuan di Giriloyo dengan utuh. Kitab-kitab itu banyak yang hilang dan beliau tidak tahu di mana hilangnya.
Pembelian kitab-kitab itu ternyata memberikan pengaruh (atsar) yang besar sekali terhadap hari-hari H. Asyhari Marzuqi selanjutnya. Beliau tidak bisa membayangkan seandainya uang yang diperoleh dari pekerjaannya dahulu itu tidak dibelikan kitab, mungkin beliau tidak memiliki tinggalan (kenangan) pada generasinya nanti. “Seandainya pada saat itu gaji yang diperoleh disimpan dalam bentuk uang mungkin sudah habis sejak dahulu,” kata beliau.

Mengasuh PPNU
Pada tahun 1982, H. Asyhari Marzuqi mendapat telegram dari rumah yang isinya Mbah Marzuqi telah membeli tanah (sekarang menjadi bangunan ndalem) dan mendapat tanah wakaf dari pak H. Anwar untuk didirikan bangunan pondok (Lihat BAB I). H. Asyhari Marzuqi diminta pulang untuk membicarakan masalah Pondok.
Tahun 1985 H. Asyhari Marzuqi meniggalkan negeri Syaikh Abdul Qadir Jilani itu untuk kembali ke tanah kelahiran. H. Asyhari Marzuqi pulang bersama dengan ibu Nyai Hj. Barokah. Kemudian pada tahun 1986 tepatnya pada bulan Ramadlan di pondok Nurul Ummah mulai diadakan pengajian. Saat itu ada 27 santri, yang terdiri dari 25 santri putra dan 2 santri putri.

Pandangan Hidup dan Mauidzah
H. Asyhari Marzuqi selalu berusaha menanamkan rasa pengabdian dan kecintaan, dalam rangka mempersiapkan akhirat. Tuntunan atau pandangan itu terilhami oleh konsep “Addunya Mazro’atul akhirah” : bahwa dunia itu hanya sekedar sarana untuk mencapai kebahagiaan di akhirat. Dunia itu fana, tidak kekal, sehingga dengan ketidakkekalannya itu harus dipergunakan dengan maksimal agar bisa mencapai kebahagiaan akhirat yang kekal. Oleh karena itulah dunia ini dinamakan dar at-taklif yaitu tempat mengemban amanat, mengemban tugas-tugas dari Allah Swt. Karena kalau sudah di akhirat nanti bukan lagi sebagai dar at-taklif , tetapi sebagai dar al-jaza’ , yaitu suatu tempat untuk menerima upah dan imbalan atas sesuatu yang telah kita lakukan di dunia dahulu.


sumber : www.nurulummah.com

Senin, 13 April 2009

masukan buat KMNU UGM

assalamu'alaikum....

acara maulid rasul sudah terselenggara di UGM. akhirnya sedulur-sedulur nahdliyyin berhasil gawe acara di lingkungan kampus ugm. nama besar habib syech mampu menyedot banyak jamaah. menurut temanku, jamaah yang hadir sekitar 2000 orang. oke, sukses sudah acara kita.


Namun, ada yang perlu diperhatikan nih buat sedulur2 nahdliyyin di KMNU

1. publikasi sangat kurang. pondok pesantren adalah pusat cosmos dari NU. dalam acara seperti itu, gak ada salahnya bekerjasama dengan pondok pesantren. nuansanya pasti tambah berbau surga. menurut target awal saya, jamaah yang hadir seharusnya hingga 5000 orang. 2000 orang sebenarnya masih di bawah target. sebagai pembanding, acara haul KH Ahmad Marzuqi al maghfurlahu di Giriloyo Imogiri bisa mencapai angka 5000 jamaah.
Di jogja dekat ada banyak ponpes besar, ada PP al munawwir krapyak, PP pandan arang, PP mlangi, PP nurul ummah, PP wahid hasyim,PP al Mujahadah lempuyangan, dll. selebaran masukkan ke pondok2 donk, biar santri yang hadir tambah banyak. santri kan maskot NU!

2. saya gak tau apakah kyai2 diundang ato tidak. acara sebesar itu, apalagi dengan kehadiran Habib Syech, sudah sepatutnya dihadiri kalangan habaib, kyai2, dan ulama.

3. jangan hanya sekali gebrak kalau buat acara. walaupun sederhana, acara dengan tema yang nahdiyyin banget sebaiknya diadakan secara teratur.

matur suwun...
wassalam...

Sabtu, 11 April 2009

HAFLAH MAULID RASUL KMNU

HAFLAH MAULID RASUL KMNU

Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama UGM telah mendapat restu dari PW NU DIY untuk mengadakan Majelis Sholawat dan Mujahadah yang akan diselenggarakan pada


Hari : Ahad
Tanggal : 12 April 2009
Pukul : 20.00 sampai selesai
Tempat : Masjid Kampus UGM
Pemandu : HABIB SYECH bin ABDUL QODIR ASSEGHAF

Kegiatan ini, pada dasarnya bukan sekedar unjuk gigi atau istilah kerennya show force belaka!!! Ada urgensi yang lebih penting dari itu. Misi dakwah NU yang selama ini telah luntur, utamanya di kalangan mahasiswanya harus dihidupkan kembali. Mahasiswa yang kebanyakan juga santri harus dikembalikan kepada kodratnya sebagai bagian dari organisasi dakwah terbesar di negeri ini. Mahasiswa NU jangan hanya digirng pada diskusi2 panjang yang kadang tak jelas jeluntrungannya sehingga tak jarang juga kebablasan. Nah, momen Maulid kali ini semoga menjadi momen kebangkitan NU di UGM.
Insya Allah, kegiatan akan dihadiri oleh jamaah-jamah majelis sholawat yang memang sudah menggurita di kawasan Jogjakarta. Selain itu, tamu-tamu undangan dari Pengurus Wilayah NU DIY beserta jajarannya, Pondok Pesantren, dan tak lupa ibu bapak dosen UGM pun diajak untuk memeriahkannya. Tulisan ini, juga dimaksudkan untuk MENGUNDANG Sahabat2 semua serta seluruh warga nahdliyin dimanapun berada. Untuk itu, adanya kabar ini dimohon turut menyebarkannya ke sanak saudara khusunya NU di Jogjakrta.

Terima Kasih

Jumat, 27 Maret 2009

Ziarah tulisan

Kaifa haluk


Mbah panjalu kaifa haluk

Dalam kesendirianmu

Di tengah telaga rahmat-Nya

Dinginnya malam

Tak dapat memupus semangat pencari

Tuk sekedar berkunjung padamu


Sunan gunung jati kaifa haluk

Walaupun tak sampai di pusaramu

Hati ini telah berucap salam padamu


Raden fatah kaifa haluk

Perjuanganmu telah berbuah

Kedaulatan telah tegak

Cahaya terang terpancar

Dari kubah masjid demak


Sunan kalijaga kaifa haluk

Blimbing-blimbing iman menghias taman hati

Semilir angin kedamaian

Masih terasa di pesareanmu, kadilangu


Sunan kudus kaifa haluk

Kaki-kaki terbimbing menujumu

Liku-liku jalan menambah sempurna sebuah laku

Terdengar semilir lirih

Kaulah sang arsitek abadi

Menara kudus yang membahana

Mengokohkan perjuanganmu dalam peluh dakwah

Di atas pusaramu

Hati terasa dekat dengan Pangeran

Ketika kang santri nderes al quran

Ketika mas santri menghafal al quran


Sunan muria kaifa haluk

Di atas bukit muria

Bukan halangan bagi pencari

Wangi cendana mengelus hati

Memperhalus jiwa

Memperlembut bashirah


Sunan bonang kaifa haluk

Sebuah pemakaman sederhana

Untuk seorang wali besar


Sunan drajat kaifa haluk

Terik matahari membakar hati

Ketika masuk dalam kelambumu

Keteduhan memayungi hati

Di tengah rintihan extase para pejalan


sunan Drajat kaifa haluk

masih teringat ketika lillahi ta’ala diluncurkan

menyita kehendak

mengalir anggukan ritmis nafi itsbat

mengingatkan lagi extase di makam sunan drajat


sunan ampel kaifa haluk

di sini makam guru para wali berada

nisan tanpa kelambu telah tertancap berabad-abad

mengukuhkan tanda eksistensi ketulusanmu


sunan gresik kaifa haluk

pemakaman yang merakyat

namun tetap berkharisma

tak lapuk ditelan zaman


mbah zaid kaifa haluk

kenyataan sejarah yang dirahasiakan

hingga pesan menjaga sholat

APLIKASI PENGEMASAN KALENG DAN BOTOL KACA

DALAM INDUSTRI PANGAN

1. Kemasan Gelas

Gelas merupakan suatu produk anorganik yang dibuat melalui proses fusi yang dilanjutkan dengan pendinginan. Bahan yang biasa digunakan adalah silikat, kapur, dan soda. Setelah melewati titik fusi, campuran tersebut kemudian didinginkan. Gelas bersifat rigid. Namun, sifat tersebut tidak disebabkan karena proses kristalisasi. Proses kristalisasi tidak terjadi karena atom-atomnya tersebar secara amorphous acak. Hal ini berbeda dengan kristalisasi yang persebaran atom-atomnya kompak dan teratur.

Pembuatan gelas sebagai kemasan dilakukan secara mekanisasi, pertamakali dilakukan di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Kini, penggunaan pengemas ini masih tetap bertahan. Masih banyak produk-produk yang dikemas dengan pengemas gelas, misalnya sirup, kecap, saos, selai, bir, dan minuman berkarbonasi.

Botol Gelas sebagai pengemas kecap

  1. Bentuk

Gelas sebagai pengemas kecap, berbentuk botol. Botol yang dimaksud di sini yaitu berbentuk silinder dengan semakin menyempit pada bagian atasnya. Produsen memilih bentuk ini karena beberapa pertimbangan.

  • Leher botol yang sempit memudahkan konsumen untuk mengeluarkan kecap dari botol tersebut. Kecap akan keluar dengan terkontrol karena lubang pengeluarannya sempit. Bila lubang pengeluarannya terlalu besar maka kecap yang keluar sulit dikontrol sehingga besar kemungkinannya kecap akan banyak yang terbuang percuma.
  • Bila akan mengeluarkan isinya, konsumen tinggal membalik botol. Tidak memerlukan alat yang lain.
  • Dengan adanya penutup plastic yang telah dipotong, konsumen tidak perlu menutup botol tersebut karena kemungkinan kontaminasi dari luar kecil. Hal ini disebabkan karena kecilnya lubang pemotongan ketika akan membukanya pertama kali. Berbeda dengan bentuk jar (pembuka lebar). Pengemas gelas bentuk ini harus segara ditutup setelah selesai digunakan Karen amemiliki lubang yang cukup besar sehingga kemungkinan kontaminasi tinggi.
  1. Fungsi

Penggunaan gelas sebagai pengemas kecap bukan tanpa alasan. Produsen memilihnya dengan mempertimbangkan sifat-sifat dasar gelas. Sifat –sifat tersebut merupakan harapan produsen sehingga gelas sebagai pengemas tersebut dapat berfungsi sebagai pelindung produk kecap yang aman dan higienis karena gelas bersifat inert, yaitu tidak bereaksi dengan produk. Di era sekarang, jaminan keamanan seperti ini sangat dibutuhkan karena konsumen semakin menuntut kearah ini.

Selain itu, wadah gelas dapat menyimpan kecap untuk waktu periode yang lama tanpa efek perubahan pada kualitas dan flavor.

  1. Pengisian

Pengisian kecap ke dalam botol dolakukan dalam kondisi panas. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan kondisi vakum pada head spacenya. Setelah filing, masih bisa dilakukan sterilisasi karena botol kaca meiliki sifat ketahanan yang tinggi terhadap suhu sterilisasi. Wadah gelas dapat dikenakan sterilisasi dan pasteurisasi in-bottle, baik untuk pengisian produk panas ataupun dingin. Tidak akan masalah sehubungan kondisi volume headspace dan kejutan panas yang akan dibuat. Pada prakteknya, hot-fill, produk diisikan pada 85oC dan selanjutnya didinginkan yang akan membutuhkan headspace minimum 5%.

Kondisi vakum di sini penting karena kecap merupakan sumber protein tingi dan mamiliki kemungkinan untuk ditumbuhi yeast. Kondisi vakum diharapkan dapat menghambat pertumbuhan spora yeast yang tahan terhadap pasteurisasi maupun sterilisasi..

  1. Penutupan

Tutup yang digunakan dalam produk ini bisa berupa logam yang berbentuk crown. Model penutupannya secara vakum. Kondisi vakum ini sangat diperlukan karena produk kecap merupakan produk yang nutriously, yang kaya akan protein sehingga mudah dimanfaatkan mikrobia untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangannya. Vakum dapat diciptakan dengan menghembuskan uap pada headspace. Model penutupan seperti ini mudah dan cepat sehingga biaya produksi dapat ditekan.

  1. Kemasan kaleng

Penggunaan kemasan kaleng banyak ditemukan pada beberapa produk pangan. Sekitar 78,05% dari total kemasan kaleng yang ada di bumi merupakan kemasan minuman. Kaleng untuk minuman dibedakan non-karbonatasi (kopi, teh, susu kental manis dan sport drink) dan karbonatasi (soft drink dan beer), dan lainnya adalah kaleng untuk pasteurisasi. Berikut ini merupakan review dari penggunaan kemasan kaleng pada produk susu kental manis.

Pemilihan bentuk kemasan kaleng tentunya berhubungan dengan biaya, penampilan fisik dan kompatibilitas dengan isi produk. Sebagai gambaran, harga bahan logamnya saja mencapai 50-70% dari total biaya wadah. Oleh karena itu, pemilihan bentuk ataupun desain kemasannya harus dapat ditentukan secara pasti sehingga dapat tercapai keseimbangan antara biaya yang dibutuhkan dengan keamanan yang dapat didapatkan dari kemasan untuk produk yang bersangkutan.

Bentuk dari kemasan kaleng pada produk susu kental manis adalah silinder. Ukurannya menurut standard yaitu 202x214. Maksud dari kode standard ini adalah diameternya 54mm dan tinginya 73mm. Bentuk seperti ini sudah lazim di pasaran untuk kemasan kaleng. Jarang tedapat kemasan kaleng dengan bentuk persegi. Padahal bentuk ini dapat memaksimalkan kapasitas ruang simpan. Namun, untuk mmbuat kemasan kaleng dengan bentukseprti itu tentunya memerlukan biaya besar karena harus melakukan tambahan proses pembentukan kaleng menjadi bentuk persegi.

  1. Fungsi

Penggunaan kemasan kaleng untuk produ susu kental manis sangat penting. Hal ini berkaitan dengan nilai ekonomis produk tersebut yang relatif tinggi sehingga diperlukan kemasan yang dapat memproteknya secara bagus. Ada beberapa fungsi dari penggunaan kemasan kaleng pada produk susu kental manis. Di antaranya adalah

· Melindungi produk dari kerusakan fisik dan mekanis. Sifat ini terutama didapatkan dari bahan baja sebagai penyusunnya. Baja yang digunakan merupakan baja rendah karbon(biasanya diproduksi sebagai plat hitam). Kemudian, dikonversikan menjadi tinplate atau tin-free steel (TFS) untuk wadah dan manufaktur penutup.Tinplate dibuat dengan coating elektrolic plat hitam black plate dengan lapisan tipis timah. Timah dilapiskan pada kedua sisi plat dengan ketebalan yang tepat internal untuk produk dikemas dan lingkungan eksternal.

· Melindungi produk dari kontaminasi udara luar. Kontaminasi ini dapat menyebabkan kerusakan pada produk. Kondisi seperti ini sangat penting dalam perlindungan produk susu kental manis karena beberapa alasan. Di antaranya yaitu

o Produk susu kental manis bernutrisi tinggi sehingga mudah ditumbuhi mikrobia perusak. Ketika kontak dengan udara luar terjadi maka hal pertama yang dapat ditebak adalah terserapnya uap air sehngga Ka dalam bahan meningkat. Penigkatan Ka ini sangat merugikan karena Ka semula yang rendah(akibat dari tinginya kadar gula sukrosa yang ada) meningkat dan memudahkan pertumbuhan mikrobia perusak.

o Produk susu dituntut memiliki higienitas yang tinggi. Kemasan kaleng mampu memenuhinya karena (salah satunya) dapat tahan terhadap suhu sterilisasi.

o Susu kental manis yang telah mengalami fortifikasi membutuhkan proteksi ekstra karena adanya beberapa bahan fortifikan yang sensitif terhadap cahaya, panas, dan O2. Kemasan kaleng diharapkan dapat berfungsi sebagai protektor dari beberapa ahl di atas.

  1. Pengisian

Pengisian (filling) produk susu kental manis ke dalam kemasan kaleng harus dilakukan di dalam ruang aseptis. Kondisi aseptis dibutuhkan untuk mencegah adanya kontaminasi dari luar. Di dalam pengisian, penting untuk menyediakan headspace yang cukup karena dapat mempengaruhi tingkat vacuum akhir (oksigen sisa mempengaruhi korosi internal dan kualitas produk), dan juga meminimalisasikan tekanan internal pada tutup kaleng selama pengolahan panas dan pendinginan.

  1. Penutupan

Penutupan kemasan kaleng susu kental manis menggunakan tipe penutupan double seam. Seam dibentuk dalam dua operasi, dari pembengkokan ujung/bibir kaleng dan pinggiran badan kaleng.

Humor

Salah Tafsir

Suatu pagi yang indah di sebuah sekolah di pondok pesantren, seorang ustad yang begitu berdedikasi mengajar murid-muridnya tentang betapa bahayanya minuman keras kepada mereka. Sebelum memulai pelajarannya sang guru mengambil dua ekor cacing yang masih hidup sebagai sampel, dan dua buah gelas yang satu diisi air mineral dan satunya lagi di isi dengan arak. Coba lihat baik-baik muridku, lihat bagaimana saya akan memasukkan cacing ini kedalam gelas, perhatikan baik-baik. Cacing disebelah kanan saya akan saya masukkan kedalam gelas yang berisi air mineral dan yang sebelah kiri akan saya masukkan kedalam gelas yang berisi arak. Perhatikan baik-baik.

Semua mata tertuju pada kedua ekor cacing itu. Cacing yang berada di dalam gelas berisi air mineral itu berenang di dasar gelas, sedangkan cacing yang dimasukkan ke dalam gelas yang berisi arak itu tergeletak mati. Si guru tersenyum lebar melihat semua muridnya memberikan perhatian kepada pelajarannya.

Baiklah anak-anak, Kesimpulan apa yang kamu dapat dari pelajaran yang saya tunjukan tadi

Dengan penuh yakin para murid menjawab, “UNTUK MENGHINDARI CACINGAN,..MINUMLAH ARAK!”

Kamis, 26 Maret 2009



Resensi Kitab “al kitab wa as sunnah, intabih!, diinuka fi khithrin”


KITAB KECIL DENGAN FAIDAH BESAR

Kaserat dening : Fath al Anam

Judul : al kitab wa as sunnah, intabih!, diinuka fi khithrin

Penyusun : Abi Abdillah Alawiy al Yamaniy

Penerbit : -

Tahun terbit : -

Jumlah halaman : 60 halaman

Cetakan ke : -

Belakangan ini semakin banyak kita jumpai beberapa organisasi yang mulai (sebenarnya hanya merupakan penerus dari funding father gerakan mereka) mengkritisi sebagian permasalahan-permasalahan agama yang bersifat furu’. Mereka seringkali mengecap bid’ah sesama muslim hanya karena pemahaman suatu masalah yang berbeda dengan mereka saja. Kasus seperti ini merebak luas di seluruh dunia Islam. Di tengah kemelut seperti ini, Syaikh Abi Abdillah alawiy al Yamaniy berusaha untuk memberikan kejelasan beberapa permasalahan tersebut. Bersama-sama dengan KH. Abdul Aziz Masyhuri, seorang ulama’ kharismatik NU yang sudah tidak asing lagi bagi kita, menyusun suatu kitab kecil yang berjudul al kitab wa as sunnah, intabih!, diinuka fi khithrin.

Kitab kecil tersebut cukup untuk dijadikan pedoman bagi kita, yang memiliki tendensi besar dalam mempertahankan tradisi-tradisi ulama terdahulu yang kini mulai terusik. Kitab ini terdiri dari sembilan fashl yang terapit oleh muqoddimah dan khatimah. Muqoddimah kitab ini secara garis besar menyatakan bahwa pada suatu zaman menjelang zaman akhir, keadaan serba terbolak-balik. Keimanan seorang hamba cepat berubah, pagi dalam keadaan iman, sorenya boleh jadi sudah kafir. Orang yang jujur akan didustakan, seorang pendusta akan dibenarkan. Orang yang dapat dipercaya akan dianggap pengkhianat dan seorang pengkhianat akan dianggap sebagai orang yang dapat dipercaya. Di dalam muqoddimah ini, secara implisit disampaikan mengenai keadaan realita sekarang yang cenderung membingungkan. Suatu keyakinan yang telah dianut berabad-abad kini mulai timbul ke permukaan sebagai suatu permasalahan krusial yang menyangkut nasib akhir seorang makhluk ; masuk surga atau neraka.

Fashl yang pertama menerangkan mengenai masalah tauhid. Permasalahan yang sekiranya banyak muncul di permukaan, secara lugas dan jelas ditampilkan ayat al Quran atau hadist yang berkenaan dengan masalah tersebut. Sebagai contoh, ketika ada pertanyaan di manakah Allah berada, diberikan keterangan dari al Quran yang intinya bahwa Allah berbeda dengan makhluknya. Dari sini dapat diambil pengertian bahwa ketika para makhluk membutuhkan suatu tempat maka Allah tidak seperti itu. Dia tidak membutuhkan tempat karena bila dinyatakan bahwa Allah membutuhkan tempat maka sama halnya dengan kita menyamakan Allah dengan makhluk. Tentunya hal ini bertentangan dengan ayat di atas. Selain masalah ini, ada beberapa permasalahan lain yang di sampaikan dalam fashl ini, dimulai dari pengertian tauhid, masalah pembagian tauhid, ayat musyabbihat, dll.

Fashl kedua menyangkut masalah bid’ah. Fashl ini merupakan fashl yang menyangkut permasalahan yang kini banyak menjamur. Kasus pembid’ahan yang membabi buta sudah mengatmosfer. Tidak sulit bagi kita untuk menemukan kasus pembid’ahan yang tidak bertanggung jawab. Seringkali suatu kelompok atau golongan menuduh kelompok lain banyak melakukan praktik bid’ah. Mereka selalu saja mendasarkan pada hadits Nabi yang menyatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat, setiap kesesatan adalah neraka. Pemaknaan sempit mengantarkan kita untuk dengan mudah menyatakan bahwa setiap sesuatu yang baru, yang tidak ada pada waktu Njeng Nabi, maka merupakan suatu bid’ah yang sesat. Di dalam kitab ini ditawarkan pemaknaan yang fleksibel. Tentunya, pemaknaan tersebut dengan mengacu pada pemahaman ulama’-ulama’ sekaliber Imam Syafi’iy, misalnya Imam Baihaqi, Imam Nawawi, Ibn Hazm, Iamam Ghozali, Imam as Suyuthi, as Assyaukani, Ibn Hajar al Atsqolani, dan Ibn Jauzi. Mereka menyatakan bahwa bid’ah tidak hanya terkekang dalam penafsiran yang tunggal. Secara global mereka menyatakan bahwa ada bid’ah yang bersifat baik, adapula yang jelek. Bid’ah yang jelek inilah yang sesat. Sebagai contoh, Imam Syafi’i membagi bid’ah menjadi dua, yang pertama yaitu bid’ah mahmudah dan bid’ah mazmumah. Bid’ah mahmudah adalah bid’ah yang sejalan dengan syara’ sedangkan bid’ah yang bertolak belakang dengan syara’ adalah bid’ah mazmumah.

Permasalahan yang terkait dengan maulud juga mendapat tempat khusus di dalam kitab ini. Maslah ini terkumpul di fashl yang ketiga. Banyak sajak-sajak maulud yang kita kenal saat ini, seperti Barzanji, Diba’, dan Simtud Duror. Telah lama sajak-sajak maulud ini bergema di angkasa nusantara. Namun, kini ritual pembacaan maulud mulai terusik. Lagi-lagi bid’ah dijadikan andalan untuk menyerang beberapa (banyak) kalangan pengamal maulud rosul. Wajar bagi kita apabila kemudian muncul keraguan atas keshohihan ritual yang selama ini kita praktikkan. Hal tersebut tidak lepas dari perhatian penyusun kitab ini. Di sini disampaikan bahwa maulud boleh-boleh saja. Analisa penyusun kitab ini didasarkan pada kenyataan bahwa pada praktiknya maulud adalah suatu kegiatan di mana para muslimin berkumpul untukmembaca sebagian ayat al Qur’an, riwayat hidup Njeng Nabi, dan kemudian ditutup dengan do’a. Model analisa seperti ini seringkali digunakan oleh para ulama’ dalam menentukan kebolehan suatu kegiatan menurut syara’, misalnya tahlilan, selikuran, dekahan, dan beberapa tradisi lain yang merupakan adaptasi pelaksanaan syara’ di dalam suatu masyarakat.

Masih ada enam fashl lagi di dalam kita ini, yaitu masalah menyentuh mushaf tanpa memilki wudlu, masalah sholat, masalah kubur, masalah tawassul, masalah taqbil, dan tashawwuf. Sama dengan gaya penyampaian fashl sebelumnya, fashl-fashl tersebut tidak kalah menariknya. Masalah yang dimunculkan dapat terjawab dengan jelas sehingga dapat mempengaruhi psikologi pembaca. Rasa yakin akan kembali muncul karena argument yang diberikan berdasarkan ayat al Quran, hadits, dan qoul para ulama’ terdahulu yang terkenal memilki reputasi baik.

Kitab ini cukup tangguh untuk dijadikan rujukan dan pegangan bagi kita. Walaupun tipis, kitab ini telah mencakup dalil-dalil yang kuat sebagai dasar argument yang diberikan. Kitab ini disusun dengan bahasa yang mudah dipahami, terutama bagi kita yang masih dalam proses pembelajaran. Diksi yang dipakai mudah. Pembahasan langsung menuju poin permasalahan yang dituju. Selain itu, metode penyampaiannya dengan metode tanya jawab.

Selain memiliki kelebihan-kelebihan, tentunya juga kitab ini juga memilki kekurangan. Sebagai kitab yang tergolong khalaf, seharusnya memenuhi beberapa aturan. Misalnya pencantuman penerbit, tahun terbit, dan urutan pencetakan (cetakan ke-). Kitab ini juga sulit diperoleh. Terutama di wilayah Jogja. Mengingat pentingnya kitab ini, sudah selayaknya untuk memperluas distribusinya. Usaha ini untuk mengimbangi peredaran buku yang diterbitkan oleh gerakan pembid’ahan yang tidak berdasar. Mereka telah menguasai banyak media, seperti televisi, majalah, bulletin, radio, buku, dan surat kabar.

Wallahu a’lam…..